Sabtu, 03 Desember 2011

Model Pengelolaan Sampah ITB Bisa Diterapkan di Bandung

Iman Herdiana

Sumber: okezone.com, Jum'at, 04 November 2011 17:03 wib


BANDUNG - Model rumah pengelolaan sampah (RPS) Institut Teknologi Bandung (ITB) bisa ditiru secara komunal. Tiap 1.000 kepala keluarga di Bandung, bisa membuat model pengelolaan sampah secara mandiri tersebut. Pengelolaan sampah secara mandiri ini artinya tidak tergantung kepada dinas kebersihan kota. Dari sampah juga bisa dihasilkan barang-barang daur ulang dan pupuk organik yang bisa dijual. Maka, RPS ITB yang sudah berjalan selama lima tahun kini bisa mandiri, bahkan mampu menyerap tenaga kerja.

Ahmad (41), salah seorang pegawai RPS ITB, mengaku digaji Rp1,1 juta per bulan dengan waktu kerja enam hari dalam satu minggu. Dia bertugas sebagai tenaga pembakar sampah yang tidak dapat didaur ulang seperti berbagai jenis kantung plastik.

"Setiap hari, saya bisa membakar sekira 100 kg sampah plastik," ujar pria asal Gang Siliwangi, Jalan Siliwangi, Bandung itu, Jumat (4/11/2011).

Sebagai penghasilan tambahan, pria yang telah bekerja selama dua tahun tersebut bisa mengumpulkan sampah yang bisa didaur ulang berupa kardus, duplek, plastik bekas minuman, botol, dan lain-lain. "Sehari bisa mendapat 40 kg lebih. Ya kalau dijual lumayan hasilnya," kata Ahmad.

RPS ITB didirikan pada 2007 pasca longsornya TPA Leuwi Gajah. Pendiri RPS adalah dosen Sekolah Tinggi Ilmu Hayati (SITH) ITB, Nyoman P Aryanta.

Di samping menghasilkan kompos, daur ulang sampah, energi panas pembakaran sampah juga digunakan perusahaan Rumah Jamur untuk membudidayakan berbagai jenis jamur yang bisa dikonsumsi untuk makanan dan obat.

Sementara Ainur Rofiq, asisten Nyoman P Aryanta, menyebutkan, hingga kini tercatat 11 orang pegawai yang bekerja di RPS. "Model RPS ITB bisa dibuat oleh tiap 1.000 KK di Bandung. Pengelolaannya bisa mandiri lewat budidaya jamur, daur ulang, dan kompos. Belum lagi jIka ada retribusi dari pihak yang ikut membuang sampah ke RPS," papar Ainur.

RPS ITB berkapasitas satu persen dari total sampah yang ada di Kota Bandung yang per harinya mencapai 200 meter kubik. RPS merupakan prototipe pengelolaan sampah bukan mengandalkan TPA.

"Memang yang menjadi kontroversi karena ada di inseneratornya. Tapi sebernarnya pembakaran sampah biasa lebih bahaya daripada pakai insenerator," ujarnya.

Insenerator tersebut dibuat dosen kimia ITB Adi Darmawan dengan kapasitas 100 kg per jam. Biaya pengelolaan sampah RPS jika dihitung-hitung mencapai Rp30 ribu untuk mengolah sampah organik permeterkubik dan Rp30 ribu untuk sampah bukan organik. Biaya tersebut meliputi BBM, gaji karyawan, dan komponen lainnya.

Sedangkan kompos yang dihasilkan lebih sehat karena hasil permentasi mikroba perkomposn bukan ekoli seperti di TPA umumnya. Mikroba dikembangkan oleh labolatorium Sekolah Tinggi Ilmu Hayati (SITH) ITB. "Sehingga sampah organik di sini tidak menimbulkan bau," kata alumni biologi ITB angkatan 2000 ini.

Senin, 11 April 2011

Bagaimana Cara Jerman Mengurus Sampah?

Tribun Jogja - Kamis, 3 Februari 2011 15:34 WIB

Catatan : Admi Landri Schuleter

PENANGANAN sampah di Jerman benar-benar dimulai dari rumah tangga. Begitu juga di lingkungan perkantoran, perusahaan, dan pertokoan. Sampah sudah dipilah-pilah berdasarkan jenisnya dari titik pertama produksi sampah.

Setiap perumahan penduduk, toko, kantor, restoran, supermarket dan industri di Jerman wajib memiliki minimum dua macam tong sampah yang disediakan dinas kebersihan pemerintah daerah setempat.

Ukurannya beragam tergantung berapa banyak sampah yang dibuang setiap minggu. Tong yang tutupnya berwarna hijau digunakan buat pembuangan sampah organik yang bisa langsung dikomposkan.

Sedangkan tong bertutup abu-abu untuk pembuangan sampah multi atau nonorganik. Tong sampah ini dikosongkan setiap minggu dan bergantian. Misalnya minggu ini tong bertutup warna hijau dikosongkan, dan minggu depannya tong berwarna abu-abu.

Selain itu pemerintah daerah memberikan secara cuma-cuma kantong plastik kuning yang diberi nama "Gelbersack" ke setiap rumah tangga. Kantong ini untuk sampah yang bisa diolah kembali/recycling seperti kaleng, plastik, styrofoam dll.

"Gelbersack" ini dikumpulkan di pinggir jalan oleh setiap rumah tangga yang kemudian diambil oleh dinas kebersihan setiap dua minggu. Ada juga sebagian rumah tangga, kantor dan industri yang memiliki tong sampah tutup biru yang digunakan untuk pembuangan kertas.

Sedangkan bagi rumah tangga, toko, industri dan sebagainya, yang tidak memiliki tong tutup biru ini, sekali sebulan dinas kebersihan akan datang mengambil kertas-kertas ini yang telah ditumpuk masyarakat secara kolektif dengan rapi di trotoar jalan.

Atau masyarakat bisa langsung membuangnya langsung di tempat pengumpulan kertas dan botol yang tersedia di tiga tempat minimum di satu kelurahan. Sampah ini dari rumah tangga atau dari sumbernya telah dipisah-pisahkan terlebih dahulu sebelum dibuang ke tong.

Untuk memiliki tong sampah ini tentunya masyarakat harus membayar iuran sampah tiap bulannya, tergantung berapa besar ukuran tong dan berapa banyak tong yang dimiliki.

Sepertinya di Jerman tidak ada yang namanya sampah menjadi sia-sia. Pemerintah berusaha keras agar setiap sampah bisa bermanfaat, menjadi sumber energi antara lain.

Setiap tahun, sebanyak 525.000 ton sampah dibakar di industri energi dan batu bara merah Schöningen.

Ini sebuah kota kecil berpenduduk sekitar 13 ribu di distrik Helmstedt, negara bagian Lower Saxony. Dari Braunschweig, kota ini tidak terlalu jauh. Posisinya di antara tiga kota besar, Hannover, Braunschweig, Wolfsburg ke arah Magdeburg.

Pusat pengolahan sampah ini beroperasi nonstop 24 jam, termasuk akhir minggu dan hari libur. Sampah ini dibakar di bak pembakaran yang diambil setiap saat dengan keran yang panjang ke bunker deponi dengan suhu minimal 850 C.

Energi panas yang dihasilkan mencapai kualitas yang diharapkan menjadi sumber energi. Pusat pengolahan sampah ini dibawah kendali kepala produksi BKB (Braunschweig Kohlenbergwerke/Industri Batu Bara Braunschweig) Schöningen, Markus Anton.

Untuk proses pengubahan sampah menjadi sumber energi ini dibutuhkan sampah kering. Kalau sampah tersebut kelihatan gelap dan berwarna hitam, berarti sampah tersebut basah dan sulit untuk dibakar.

Kadang-kadang juga ditemui barang-barang yang tidak berhak menghuni deponi dan disimpan di bunker sampah. Misalnya tresor yang terbuat dari metal/besi, washtafel yang terbuat dari keramik. bahan-bahan seperti ini tidak bisa dibakar menjadi bara.

Sampah yang dibakar di Schöningen ini berasal dari berbagai region seperti: Helmstedt, Salzgitter, Goslar, Wolfsburg, Hannover dan Hildesheim, sedangkan sampah Braunschweig sendiri dibawa ke region lain.

Sebagian besar sampah di Jerman dibakar untuk dijadikan sumber energi seperti juga di Schöningen. Diperhitungkan, dalam jumlah 1.500 ton sampah yang dibakar dapat menghasilkan stroom sama sebanyak 700 ton pembakaran batu bara.

Melalui pembakaran sampah ini, energi yang berasal dari sumber daya alam perut bumi bisa dihemat. Ini pulalah yang mendasari kenapa Menteri Lingkungan Hidup Jerman Sigmar Gabriel memuji pemrosesan sampah seperti ini.

Pendeponian sampah yang belum diolah tidak boleh lebih dari dua tahun lamanya. Sebab gas methan yang diproduksi sampah tersebut bisa merusak iklim dan lingkungan. Sumber energi yang digunakan di Schöningen adalah berasal dari sampah dan batu bara merah.

Sejak 1998 Schöningen telah melakukan pembakaran sampah yang tentunya asap yang dihasilkannya sudah disaring dan dibebaskan dari CO2 dan gas-gas beracun lainnya yang sangat berbahaya bagi kesehatan dan lingkungan sebelum dilepas ke udara.

Malah udara yang keluar dari dari industri BKB ini lebih bersih dari pada yang masuk ke sana. Secara permanen udara dan gas yang dihasilkan dari pembakaran sampah di industri ini selalu dikontrol.

Bahkan masyarakat diminta juga untuk ikut mengontrolnya dengan memberikan pelatihan dan informasi cuma-cuma mengenai hal ini.

Kepada masyarakat juga diinstruksikan agar melaporkan secepatnya seandainya ada masalah yang mencurigakan karena asap pembakaran ini. (*)

*) ADMI LANDRI SCHLUETER, Mahasiswi S-2 Teknik Lingkungan di Wolfenbuttel, Braunschweig, Jerman

Sumber: http://jogja.tribunnews.com/2011/02/03/bagaimana-cara-jerman-mengurus-sampah

Minggu, 02 Januari 2011

Workshop Daur Ulang Sampah bersama RECYCL Indonesia di Wonocatur, Yogyakarta

Pada Hari Minggu, 2 Januari 2011, warga Wonocatur, Yogyakarta melakukan workshop daur ulang sampah bersama RECYCL Indonesia. Workshop ini dihadiri lebih dari 20 orang dari berbagai tingkat usia.

Sebelum RECYCL Indonesia memberikan materinya, Pak Setyo menyampaikan materi tentang pengelolaan limbah rumah tangga dengan komposter, dan penggunaan biopori untuk halaman rumah.
Setelah Pak Setyo menyampaikan materinya, RECYCL Indonesia memberikan materi pengelolaan sampah padat. Dalam workhshop ini, peserta berlatih membuat 1) pigura dari sampah karton dan plastik, 2) gantungan kunci ikan dari sampah plastik, dan 3) tempat pensil dari sampah tabung karton dan plastik.

Acara berjalan dengan lancar dan menyenangkan karena peserta aktif dan berminat untuk berlatih mengelola sampah.

Sabtu, 01 Januari 2011

Mendaur ulang sampah plastik menjadi sumber usaha


Plastik menjadi bahan pembungkus yang paling banyak digunakan masyarakat. Meski semangat go green terus berkumandang dan banyak yang mencoba menghindarinya, penggunaan plastik hingga kini belum menurun. Itulah sebabnya bisnis penggilingan plastik tetap menggelinding.

Penggilingan sampah plastik merupakan bagian penting dalam sistem daur ulang plastik. Proses itu menjadi jembatan agar sampah plastik bisa bermanfaat.

Jumat, 03 September 2010

Bali Perang Melawan Sampah Plastik


Kepala Badan Lingkungan Hidup Provinsi Bali Anak Agung Alit Sastrawan bersama pemangku kepentingan berupaya terus membersihkan Bali dari sampah plastik dalam satu hari melalui kampanye Bali Clean Up Day.


"Kampanye Bali Clean Up Day secara serentak akan dilakukan pada 20 September 2010. Hal ini diharapkan menjadi tonggak bagi terciptanyai provinsi bersih dan hijau yang akan dicanangkan oleh Gubernur Mangku Pastika pada 2013," kata Anak Agung Alit Sastrawan, Selasa (31/8).

Acara Clean Up Day Bali 2010 merupakan upaya setempat untuk membangkitkan kesadaran atas kebersihan lingkungan. Untuk itu, panitia menetapkan 13 lokasi kegiatan clean up yang mencakup kawasan pinggir jalan-jalan utama, pertamanan, pantai, dan saluran air. "Kami mengharapkan, lembaga pendidikan dan sekolah, organisasi masyarakat, serta perusahaan swasta ikut secara mandiri melaksanakan program kebersihan tersebut," katanya.

Bila sudah tumbuh kesadaran seperti itu dari warga masyarakat, kata dia, harapan untuk menuju Bali bersih dan hijau tidaklah sulit. "Kami bersama pemangku kepentingan akan terus berupaya melakukan sosialisasi kepada warga masyarakat terkait kebersihan lingkungan dengan melakukan pemungutan sampah organik dan anorganik," katanya.

Ia mengatakan, pemerintah sudah sejak lama di sejumlah desa di Bali membentuk kelompok sadar lingkungan, dengan harapan kesadaran warga masyarakat secara bersama-sama akan peduli dengan lingkungan. "Selain melakukan gerakan sadar lingkungan, pihaknya juga berupaya menyosialisasikan pengurangan penggunaan kantong plastik di pasar swalayan tersebut," ucapnya.

Sumber: http://www.mediaindonesia.com/read/2010/08/08/165751/129/101/Bali-Perang-Melawan-Sampah-Plastik

Tukang Sampah di Inggris Dilengkapi Blackberry


Biffa, salah satu perusahaan terbesar untuk pengumpul sampah di Inggris telah melengkapi ponsel Blackberry di semua truk sampahnya dan tidak tanggung-tanggung, sudah 1.500 buah ponsel Blackberry digunakan dari total 3.100 Blackberry yang direncanakan.

Ponsel Blackberry yang ada di setiap truk sampah tentu saja bukan untuk kesenangan para pekerja melainkan untuk menunjang produktifitas.

Ponsel Blackberry tersebut akan digunakan untuk mengumpulkan laporan dari pelanggan, download peta dan komunikasi dengan kantor. Selain itu bisa digunakan untuk mengambil foto lokasi atau daerah yang sampahnya dianggap membahayakan.

Oh iya, pastinya, ponsel Blackberry ini juga akan digunakan sebagai alat untuk melacak lokasi setiap truk sampah mereka sehingga para pekerja tidak bisa bermalas-malasan lagi.


Sumber: http://www.metrogaya.com/belanja/market-trend/tukang-sampah-di-inggris-dilengkapi-blackberry

Selasa, 20 Juli 2010

Sampah Untuk Fondasi Bangunan

Bila mendengar kata “sampah” mungkin kita tak akan tertarik untuk menyimpan ataupun membayangkannya!Namun, tahukah kita bahwa sekarang sampah dapat digunakan sebagai fondasi sebuah bangunan.

Bagaimana caranya sampah bisa menjadi fondasi sebuah bangunan? Tentu kita bertanya-tanya mengenai hal ini. Namun ternyata tumpukan “sampah” yang selama ini hanya diremehkan oleh kita, bisa diolah menjadi “semen” yang merupakan kebutuhan pokok sebuah bangunan.


Berawal dari penelitian di Jepang tahun 1992, para peneliti Jepang ternyata menemukan bahwa abu hasil dari pembakaran sampah mengandung unsur yang sama dengan bahan dasar semen pada umumnya. Semen dengan bahan dasar sampah yang biasa disebut dengan “ekosemen” ini merupakan hasil olahan dari pembakaran sampah yang dicampur dengan endapan air kotor yang mengandung senyawa-senyawa seprti CaO, SiO2, Al2O3, dan Fe2O3 yang merupakan bahan dasar seperti dalam pembuatan semen biasa.


Dalam hasil pembakaran sampah, ternyata kandungan CaO masih belum mencukupi dan membutuhkan 52% lagi dari keseluruhan. Sehingga dalam pembuatan semen pada nantinya ditambahkan “Limestone” (batu kapur) untuk memenuhi kekurangan tersebut. Namun meski mengalami kekurangan, ekosemen masih lebih baik dibandingkan dengan pembuatan semen biasa yang membutuhkan 78% limestone dari keseluruhan.


Sampai dengan saat ini telah terdapat dua pabrik di Jepang yang memproduksi ekosemen. Dimana masing-masing pabrik mampu menghasilkan 110.000 ton per tahunnya.


Sumber: http://green.kompasiana.com/group/limbah/2010/07/09/sampah-untuk-fondasi-bangunan/

Nol Sampah di Code untuk Beranda Kota

KALI Code, yang mengalir mulai dari Kabupaten Sleman sampai Kota Yogyakarta, telah menjadi barometer penanganan sungai kota di Tanah Air. Gerakan bersih dari sampah pun dicanangkan, tidak hanya oleh masyarakat di pinggiran sungai, tapi juga warga Kota Gudeg. 

Kemarin, ribuan orang, untuk kesekian kalinya, turun ke Kali Code, untuk membersihkan sampah. Aliran sungai sepanjang 20 kilometer pun dijejaki warga. Kegiatan itu juga memecahkan rekor Museum Rekor Indonesia. 

Tidak hanya warga, sejumlah pelajar, mahasiswa, dan anggota TNI juga turun ke kali. Mereka berhasil mengangkat delapan meter kubik sampah yang kemudian diangkut ke dalam sebuah truk. 

Pembersihan Kali Code diawali dari Jembatan Rejodani, Sleman dan berakhir di Jembatan Tri Tunggal, Kota Yogyakarta. Sepanjang jarak itu, ada delapan posko pembersihan sampah. 

"Upaya ini untuk menumbuhkan rasa cinta kepada sungai dan menciptakan Sungai Code yang bersih," kata Wakil Wali Kota Yogyakarta, Hariyadi Suyuti. 

Kegiatan digelar Paguyuban Pemerti Code, didukung Badan Lingkungan Hidup Kota Yogyakarta, Badan Lingkungan Hidup DI Yogyakarta, Dinas Pengairan DI Yogyakarta, dan Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak. 

Kepala Bidang Kebersihan Badan Lingkungan Hidup Kota Yogyakarta, Benny Nurhartono, mengungkapkan pihaknya akan terus mengupayakan tidak ada sampah di Kali Code. "Kami akan selalu mengupayakan nol sampah di Kali Code." 

Warga sekitar kali terus diberi pencerahan. Rumah sengaja didesain menghadap sungai sehingga mereka mulai menganggapnya sebagai halaman sendiri. Tujuan akhirnya, warga selalu menjaga kebersihan Code. 

Tak mau kalah, Warga di Banjarnegara, Jawa Tengah, juga turun ke Waduk Panglima Besar Soedirman atau Waduk Mrica. Sekitar 1.800 orang bekerja keras membersihkan waduk dari eceng gondok. Mereka terdiri dari pejabat dan pegawai pemkab, pelajar, pramuka, dan pecinta alam. 

Saat ini, dari sekitar 800 hektare luas waduk, 200 hektare di antaranya tertutupi eceng gondok. "Pengangkatan eceng gondok dari waduk akan menyelamatkan usia waduk dan pembangkit listrik," kata General Manager PT Indonesia Power Unit Mrica Rusli Abdul Kadir. (SO/LD/N-3)

Sumber: http://www.mediaindonesia.com/read/2010/07/19/156468/76/20/Nol-Sampah-di-Code-untuk-Beranda-Kota

Jumat, 16 Juli 2010

UD Sregep, Dari Sampah Kertas Hidupi 70 Karyawan

Selasa pagi, di sebuah rumah yang cukup besar dan asri di kawasan Karanglo, Sleman, Yogyakarta, PM diterima Joko Santosa, pimpinan dan pemilik UD Sregep. Rumah yang sekaligus dijadikan sebagai gudang inilah UD Sregep menjalankan aktifitas bisnisnya, yaitu mengumpulkan dan mengelola sampah-sampah kertas.

Ya, UD Sregep merupakan pelaku bisnis yang khusus menangani sampah-sampah kertas. Bahkan di Yogyakarta, nama UD Sregep sudah sangat dikenal sebagai ‘pemburu’ kertas bekas. Selain kalangan rumah tangga, hampir semua perkantoran instansi pemerintah maupun swasta selalu menjadi langganan UD Sregep dalam membuang sampah-sampah kertasnya.

Meskipun sekedar mengelola dan mengumpulkan sampah kertas, Anda mungkin tak akan menyangka bila omsetnya telah mencapai 20 ton per hari. Bila sampah kertas dihargai sekitar Rp 1.000 hingga Rp 1.200 per kg, maka omsetnya mencapai Rp 20 juta per hari. Maka tak heran bila bisnis yang telah dijalankan sejak tahun 1993 ini telah memberikan banyak hal, di antaranya rumah besar yang dijadikannya sebagai gudang, armada truk, serta 70 karyawan yang kini bernaung di dalamnya.

Sumber: http://majalah.pengusahamuslim.com/2010/07/07/edisi-juli-2010-menjadi-jutawan-dari-sampah-dan-barang-bekas/

Berkreasi dengan Kertas Seni

Kertas daur ulang atau yang juga dikenal dengan sebutan kertas seni mulai populer pada dekade 80-an. Dengan menerapkan teknik pembuatannya yang sama seperti teknik membuat kertas pabrikasi, sebagian masyarakat mulai mencoba membuat kertas daur ulang secara manual atau buatan tangan. Dari sini kemudian timbul beragam nama untuk penyebutan kertas hasil buatan tangan, seperti kertas daur ulang (recycle paper), kertas buatan tangan (handmade paper), serta kertas seni (art paper) karena fungsinya sebagai sampul atau pelapis produk seni, seperti asesoris atau cinderamata.

Setelah masyarakat melihat adanya peluang bisnis yang cukup prospektif, maka pada dekade 90-an kertas daur ulang mulai diproduksi secara komersial. Di Yogyakarta, beberapa kelompok seniman memproduksi kertas daur ulang untuk kepentingan proses kreatifnya, seperti dalam pembuatan lukisan ataupun eksperimental art lainnya. Sementara di berbagai kota lainnya muncul kelompok usaha yang memproduksi kertas daur ulang untuk pembuatan produk-produk cinderamata secara komersial. Sejak saat itu, kertas daur ulang mulai dilirik sebagai sebuah peluang bisnis yang sangat menarik.

Kini, untuk memenuhi kebutuhan masyarakat terhadap kertas daur ulang, khususnya pesanan dari para eksportir maupun buyer luar negeri, para produsen mulai mencari alternatif lain dalam memproduksi kertas daur ulang secara massal. Tentunya tanpa meninggalkan kualitas dan ciri khasnya sebagai kertas seni. Teknologi baru pembuatan kertas daur ulang, seperti penggunaan mesin, sudah mulai diperkenalkan. Kenyataan ini bukan mustahil akan mendorong bisnis pembuatan kertas daur ulang menjadi usaha komersial yang tidak lagi berskala kecil atau home industry.

Sumber: http://majalah.pengusahamuslim.com/2010/07/07/edisi-juli-2010-menjadi-jutawan-dari-sampah-dan-barang-bekas/

Cling of Uwuh

Tak jarang pelaku usaha yang bingung dalam mencari ide untuk membuat sebuah produk bisnis. Kebanyakan malah cenderung idealis dengan mencari ide-ide besar. Padahal di sekitar kita tersedia berbagai ide dan bahan untuk membuat berbagai macam produk bisnis. Termasuk sampah-sampah yang berserakan dan dianggap tak bernilai, justru merupakan bahan murah namun dapat dijadikan barang atau produk bisnis yang eksklusif dan mahal.

Seperti yang dilakukan Lestari (Lembaga Studi Tata Mandiri) Yogyakarta.  Berawal dari keprihatinan terhadap makin menumpuknya problem sampah, Lestari mengajak ibu-ibu rumah tangga di kawasan Yogyakarta dan Bantul untuk mengelola sekaligus mengolah sampah yang ada. Hingga kini terkoordinir tak kurang dari 20 kelompok. Masing-masing kelompok mewakili wilayah di suatu Rukun Warga. Maka kalau dijumlah ratusan ibu-ibu rumah tangga bergabung dalam kegiatan ini.

Kenapa memilih ibu-ibu rumah tangga sebagai sasaran kelompok ini? Menurut Agus Hartono, Direktur Lestari, karena sebagian besar sampah kota berasal dari rumahtangga. Dan yang lebih mengetahui tentang kegiatan didalam suatu rumahtangga adalah ibu-ibu. Jadilah ibu-ibu sebagai sasaran utama. “Dalam prakteknya, ibu-ibu yang lebih mengetahui kebutuhan rumahtangga sekaligus lebih mudah diajak dalam advokasi lingkungan dibandingkan bapak-bapak,” katanya dalam perbincangan dengan PM di kediamannya yang asri di kawasan Kotagede, Yogyakarta.

Sumber: http://majalah.pengusahamuslim.com/2010/07/07/edisi-juli-2010-menjadi-jutawan-dari-sampah-dan-barang-bekas/

Ketika Pengelolaan Sampah Dibebankan kepada Sang Produsen

oleh Rafianti S.Pi M.Sc

Sampai saat ini, praktik pengelolaan sampah di Indonesia hanya meliputi tiga kegiatan; pengumpulan, pengangkutan, dan membuangnya ke tempat penampungan akhir (TPA).

Di TPA, sampah juga dibuang dan ditumpuk begitu saja tanpa perlakuan apapun, istilah ini dikenal dengan open dumping (dibuang di tempat terbuka).

Menurut laporan Kementerian Negara LH tahun 2008 berjudul Kontribusi Sampah terhadap Pemanasan Global, akibat praktik open dumping yang hampir ditemukan di semua TPA di Indonesia tersebut, sampah yang menumpuk adalah salah satu penyumbang gas rumah kaca utama dalam bentuk metan (CH4) dan karbondioksida (CO2). Bahkan gas metan, disebutkan, berkontribusi 15 persen terhadap efek rumah kaca, efeknya 20-30 kali lipat dibandingkan dengan gas CO2.

Jumat, 09 Juli 2010

Inovasi Tas Daur Ulang Menembus Ekspor

Pasar ekspor sudah menjadi fokus utama dari awal kemunculan produk tas wanita dari Yogyakarta ini. Dengan label CS Bag ini, Clara Seiffi Emmy Pratiwi mengirim tas berbahan dasar alami seperti anyaman pandan berjumlah puluhan ribu item hingga ke Amerika. Kini, usahanya terus berkembang dengan tas daur ulang. Pasar lokal pun menjadi pangsa pasar yang ingin diraih CS Bag berikutnya.

Selasa, 06 Juli 2010

Sampah Plastik di Tangan Kreatif

Kreativitas memang tidak pernah berujung. Itulah kata yang sering dilontarkan pada murid-muridnya oleh Ratna Palupi, tutor program daur ulang sampah plastik Komunitas Masyarakat Gemar Membaca (Magma). Bagi Ratna, kreativitas itu terus berkembang tanpa batas. Ia mencontohkan, bagaimana dulu sampah plastik yang dianggap tidak berguna, sekarang di tangan kreatif bisa disulap menjadi tas cantik, tempat handpone dan barang-barang bermanfaat lainnya.“Sampah plastik merupakan harta terpendam”, katanya.

Senin, 05 Juli 2010

Medali Olimpiade 2010 Dibuat Dari Sampah Daur Ulang

Medali Olimpiade 2010 - Bumi semakin hari semakin tua. Salah satu penyebabnya adalah kurangnya kesadaran manusia untuk merawat Bumi dengan memanfaatkan kembali sampah-sampah untuk diolah menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi kehidupan.

Untuk menciptakan bumi yang lebih baik, maka panitia pesta olahraga sedunia alias Olimpiade memutuskan untuk menyediakan medali yang dibuat dari sampah daur ulang.

Panitia olimpiade musim dingin 2010, akan menyediakan medali yang terbuat dari sampah-sampah elektronik. Logam-logam dari sampah Televisi, komputer, dan keyboard akan diolah untuk dijadikan medali emas, perak dan perunggu.

Komunitas Magma; Daur Ulang Sampah Plastik Menjadi Tas Cantik


Kemasan bekas produk biasanya berakhir di tempat sampah. Tetapi di tangan yang kreatif, kemasan bekas produk bisa menjadi barang yang berguna. Berangkat dari kesadaran akan kepedulian pengelolaan sampah plastik, Komunitas Masyarakat Gemar Membaca (Komunitas Magma) Senin (22/03) siang mengadakan pelatihan daur ulang sampah plastik menjadi berbagai macam tas cantik di Taman Baca Masyarakat (TBM) Muthia Kampung Serpong RT 02 RW 01 Kelurahan Serpong Kecamatan Serpong Kota Tangerang Selatan.

Kamis, 01 Juli 2010

Produk daur ulang kreatif

Hai semua! Nih, ada foto produk daur ulang kreatif yang diambil dari postingan di http://www.kaskus.us/showthread.php?t=3962271.

Wah, jadi pengin bikin juga.


Selasa, 12 Agustus 2008

Pengolahan Sampah Anorganik di acara Indonesian Youth Media Camp

Pada 9 Juni 2008 yang lalu, Kelolasampah memberikan workshop pengolahan sampah anorganik di acara Indonesian Youth Media Camp di Yogyakarta. Yang datang ke stand Kelolasampah mulai dari anak SMA sampai bapak-bapak. Beberapa pengunjung mencoba menjahit sampah bungkus minuman instant. Mereka senang mendapat pengetahuan dan pengalaman baru mengelola sampah.

Workshop Pengelolaan Sampah Mandiri di Umbulharjo

Kelolasampah mengadakan workshop pengelolaan sampah mandiri untuk ibu-ibu di Umbulharjo Maret 2008 lalu. Acaranya seru banget. Ibu-ibu didampingi untuk mengolah sampah bungkus minuman instant menjadi tas dan dompet unik. Ayoo.. siapa lagi yang mau belajar membuatnya?

Kamis, 06 Maret 2008

Talkshow Pengelolaan Sampah di Gereja Katolik Maria Assumpta, Stasi Florentinus, Babarsari

Pada hari Minggu, 2 Maret 2008, Waste Care Community (WCC) bekerjasama dengan mudika Gereja Katolik Maria Assumpta, Stasi Florentinus, Babarsari mengadakan talkshow pengelolaan sampah di aula gereja. Talkshow dihadiri oleh umat di Gereja Katolik Maria Assumpta, Stasi Florentinus, Babarsari dan para mahasiswa yang tertarik tentang pengelolaan sampah.

Talkshow ini menghadirkan narasumber Pak Joko Pambudi, seorang pengepul sampah yang tinggal di Dabagaten, Jl. Wahid Hasyim no. 152, Condongcatur. Narasumber kedua adalah Pak Fery Tri Jatmiko yang bekerja di Dinas Lingkungan Hidup Pemerintah Kota Yogyakarta.


Pak Fery memaparkan tentang pengelolaan sampah di kota Yogyakarta. Selain tentang alur pembuangan sampah, Pak Fery juga menjelaskan tentang usaha-usaha yang dilakukan oleh Dinas Lingkungan Hidup untuk meningkatkan kualitas pengelolaan sampah di Yogyakarta, khususnya dengan pengelolaan sampah mandiri yang sekarang ini mulai banyak diusahakan oleh masyarakat.


Pak Joko menceritakan pengalamannya selama menjadi pengepul sampah. Yang menarik, ternyata relatif semua sampah bisa diolah dan dapat menghasilkan pendapatan yang lumayan.